Home > Petani Dan Buah Pir

Petani Dan Buah Pir

Pengarang: Anonim

Kategori: Tumbuhan

Adalah seorang petani yang hidup bersama tiga anak lelakinya. Mereka bersama-sama mengerjakan ladang buah pir. Buah pir adalah semacam buah apel yang manis rasanya.

Di suatu musim panen, ladang buah pir itu menghasilkan buah-buah yang bagus dan besar. Warnanya kuning keemas-emasan.

“Ladang kita hasilnya tak ada yang menyamai. Lihatlah, buah pir itu besar-besar, kuning bagai emas. Sebab itu ambillah satu keranjang dan persembahkan kepada Raja. Pasti beliau akan memberi hadiah yang menarik.”

Maka berangkatlah anak sulung ke kota. Dia membawa sekeranjang buah pir dengan ditutup kain.

Di tengah jalan, ia bertemu dengan seorang wanita tua berhidung dan berambut sangat panjang.

Wanita tua itu sedang mengendap-endap di kebun cengkeh. Ketika melihat si Sulung membawa keranjang terbungkus kain, ia bertanya..

“Apa yang kaubawa, nak?”
“Oh, ini hanya tanah saja, nek,” jawab si Sulung.

Wanita tua itu tertawa terkekeh-kekeh. “Pandai benar kau bersilat lidah, nak. Baiklah, teruskan langkahmu dan kau benar-benar akan membawa tanah.”

Si Sulung melanjutkan perjalanannya. Ia merasa lega karena telah selamat dari hadangan wanita tua itu. Ia mengiranya seorang peri yang jahat.

Setiba di istana, si Sulung menghadap Raja. Kata si Sulung, “Hamba hendak mempersembahkan buah pir dari hasil ladang kami. Buah pir kami besar-besar dan kuning bagai emas. Baginda pasti berkenan menerimanya.”

Raja menerima keranjang bertutup kain itu, kemudian membukanya. Ternyata yang ada dalam keranjang bukan buah pir, melainkan tanah. Raja sangat murka.

“Anak muda, kau telah berbohong dan menipuku! Terimalah hukumanku!” bentak Raja. Raja lalu memanggil prajurit dan menjebloskan si Sulung ke dalam penjara. Di dalam penjara si Sulung merasa sedih dan menangis tersedu-sedu.

Setelah berhari-hari, si Sulung tak pulang maka petani itu menyuruh Si Tengah untuk mencari kakaknya.
“Mungkin kakakmu tersesat,” kata petani.

“Sebab itu susullah dia. Bawalah buah pir sekeranjang, persembahkan kepada Raja. Nanti Raja pasti memberimu hadiah.”

Si Tengah segera berangkat ke kota. Di tengah jalan, di dekat kebun cengkeh ia bertemu dengan seorang wanita tua. Rambutnya panjang terurai, dan hidungnya juga panjang. Ia mengira wanita tua itu adalah peri penunggu kebun cengkeh.

Melihat si Tengah membawa keranjang terbungkus kain, wanita tua itu mencegatnya dan bertanya. “Apakah isi keranjang itu, nak?”

Si Tengah merasa takut, khawatir jika wanita tua itu akan berbuat jahat kepadanya. Maka ia lalu berbohong. Katanya, “Keranjang ini berisi makanan babi, nek.”

“Pandai benar kau bersilat lidah,” jawab wanita tua itu. “Teruskan perjalanmu, dan kau akan benar-benar membawa makanan babi.”

Tanpa mengacuhkan kata-kata wanita tua itu, si Tengah segera melanjutkan perjalanan. Sesampainya di istana ia menghadap Raja.

“Baginda, terimalah persembahan buah pir hasil ladang kami,” kata si Tengah.

Raja lalu membuka kain penutup keranjang itu. Tapi mendadak beliau terperanjat. “Kurang ajar! Kau hendak menipuku, ya? Lihatlah sendiri apa isi keranjangmu!” bentak Raja.

Si Tengah sendiri terkejut ketika ia melihat isi keranjang itu. Ternyata isinya bukan buah pir, melainkan makanan babi yang berbau asam. Dengan muka pucat dan takut ia menundukkan kepala.

Dua orang prajurit datang dan memasukkan si Tengah ke dalam penjara. Di dalam penjara ia tercengang ketika bertemu dengan kakaknya yang bernasib sama. Keduanya lalu bertangis-tangisan dengan sedih.

Petani buah pir itu menunggu dengan gelisah di rumah. Kedua anaknya belum juga pulang. Melihat ayahnya murung, si Bungsu mendekatinya.

“Ayah, biarlah aku saja yang datang ke kota membawa buah pir,” katanya.
“Kau masih kecil, anakku. Tentu kau tak akan sampai ke kota. Kedua kakakmu yang cerdik sampai hari ini ternyata belum juga pulang,” jawab ayahnya.

Tetapi si Bungsu terus mendesak. Akhirnya petani itu mengalah. Ia mengijinkan anak bungsunya pergi ke Istana membawa buah pir sekeranjang. “Hati-hati membawanya, nak. Jangan sampai buah pir itu diminta orang,” pesan ayahnya.

Si Bungsu berjalan pelan-pelan membawa buah pirnya. Langkahnya lambat seolah-olah keberatan beban. Setelah lama berjalan, akhirnya ia sampai di kebun cengkeh. Dilihatnya ada seorang wanita tua yang sedang mengendap-endap memetik bunga.

“Hai, anak kecil. Hendak ke mana kau?” tanya wanita tua itu.
“Hendak ke kota, nek,” jawab si Bungsu.

“Apakah isi keranjangmu?”
“Ini buah pir hasil ladang kami. Buah pir kami bagus. Warnanya kuning seperti emas. Buah pir ini hendak kami persembahkan kepada Raja.”

Wanita tua itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Kau ramah dan berterus terang, hatimu bersih. Lanjutkan perjalananmu. Kau benar-benar akan membuktikan apa yang kau bawa.”

Setelah mengucapkan terima kasih kepada wanita tua itu, si Bungsu meneruskan perjalanan ke kota. Setiba di pintu gerbang seorang penjaga mencegatnya. Penjaga itu tahu bahwa si Bungsu hendak mempersembahkan buah pir seperti kedua orang sebelumnya.

“Sebaiknya kauurungkan maksudmu. Pergilah, sebelum baginda marah,” kata penjaga itu. Tetapi si Bungsu tak mau mengurungkan niatnya.

Ketika sedang terjadi keributan tiba-tiba putri baginda muncul. Lalu mengajak si Bungsu ke hadapan Raja.

“Kau mau mempersembahkan buah pir juga? Awas, kalau kau bohong, nasibmu akan sama dengan yang lain,” kata Raja.

“Buah pir hamba bagus-bagus, besar-besar dan kuning seperti emas,” kata si Bungsu tak mengenal takut.

Ketika membuka penutup kain pembungkus, Raja terperanjat dan tertawa lebar. Sekali ini anak kecil itu tak berbohong. Di dalam keranjang itu ternyata berisi penuh dengan buah pir berwarna keemasan.

“Alangkah indahnya! Alangkah bagusnya! Kau akan kuberi hadiah sebagai ganti pemberianmu,” kata Raja. Raja lalu memberi hadiah berupa intan dan permata kepada si Bungsu.

Ketika Raja bercerita soal dua anak muda yang telah membohonginya, tahulah bahwa kedua anak muda itu adalah si Sulung dan si Tengah. Si Bungsu lalu memohonkan ampun kepada kedua kakaknya.

Setelah kedua kakaknya bebas, ketiga bersaudara itu lalu pulang dengan membawa hadiah dari Raja. Sesampainya di rumah, ayahnya memberi nasehat.

“Sebab itu jangan lekas curiga pada seseorang. Kau berpikiran buruk pada wanita tua itu. Ternyata dia bukan seorang peri yang jahat.”

“Ya, pak,” sahut ketiga anak itu berbareng. Si Sulung dan si Tengah sadar akan kesalahannya.”

Semoga cerita anak ini dapat bermanfaat. Baca juga cerita:

<< Monyet Dan Lumba-Lumba (By Anonim) Petani Baik Hati (By Anonim) >>

Lihat juga kategori: Cerita Rakyat | Fabel / Binatang | Tumbuhan | Putri, Gadis & Dewi | Raja & Pangeran | Tema Umum

Suka halaman ini? Beritahu teman: