Harta Terpendam

Pengarang: Anonim

Di daerah Klungkung, Bali, pernah hidup seorang duda kaya raya yang memiliki lima orang anak. Duda ini dalam keadaan sekarat, dan ia berwasiat kepada kelima anaknya, yang suka hidup berfoya-foya hingga harta ayah mereka habis. Tinggal sebuah sawah dan sebuah ladang saja.

"Tampaknya waktu ayah sudah tidak lama lagi. Ayah tidak bisa mewasiatkan apa-apa, kecuali harta yang sudah ayah simpan di bawah sawah dan ladang. Kalian harus menemukan harta tersebut dan membaginya secara adil," kata sang duda. Untuk lebih meyakinkan mereka, sang duda menulis wasiatnya di atas selembar kertas yang dibubuhi tandatangannya.

Bukannya prihatin atas kondisi si ayah, mereka justru sibuk memikirkan kiranya harta apa yang dipendam oleh ayah mereka di bawah sawah dan ladang. Karena itu, mereka menyambut gembira wasiat tersebut, meskipun harus dibagi sama dan rata antara wanita dengan pria.

Dan tibalah saat di mana sang duda menghembuskan napas terakhir. Sepekan setelah kematian si ayah, kelima orang anak tersebut saling bersepakat untuk menggali sawah dan ladang peninggalan ayah mereka.

Namun, sudah sebagian besar dari sawah dan ladang itu mereka cangkuli, belum ada juga tanda-tanda keberadaan harta yang dimaksud ayah mereka.

"Sawah dan ladang ini sudah kita cangkuli dalam-dalam, tapi belum ada tanda-tanda keberadaan harta karun tersebut," kata si Sulung.

"Apakah ayah sudah salah berwasiat kepada kita?" tanya si bungsu.

"Tidak mungkin ayah salah," sahut si Sulung.

"Percuma... percuma... kita cangkuli sawah dan ladang ini. Lihat sudah hampir tiga perempat sawah ini kita gali, tidak mungkin harta karun itu di bawah sawah dan ladang ini," anak-anak yang menimpali.

"Tapi, baiknya kita kerjakan dulu hingga selesai, siapa tahu harta karun itu ada di seperempat lahan tersisa," usul si Sulung.

Mereka pun kembali mencangkul. Dan benar, hingga semua lahan dari sawah dan ladang itu dicangkuli tidak ada harta satu pun. Kelima orang itu kecewa. Mereka merasa dibohongi oleh ayah kandung mereka. Tapi, si bungsu punya pikiran lain.

"Kakak-kakakku, kita kan sudah mencangkuli semua lahan, dan kita juga tidak menemukan harta karun yang dimaksud oleh ayah di sini. Daripada pekerjaan kita sia-sia, bukankah lebih baik kita tanami saja tanah-tanah yang sudah kita cangkuli ini dengan padi dan palawija? Hasilnya nanti bisa kita gunakan untuk dijual."

Keempat kakaknya sepakat dengan pikiran si bungsu.

Lalu, mereka menanam padi dan palawija, seperti ayah mereka menanami sawah dan ladang tersebut. Lambat tapi pasti, padi-padi mulai menguning dan palawija juga mulai masak. Mereka pun memanen buah kerja mereka. Sedikit demi sedikit mereka berhasil mengumpulkan kekayaan seperti ayahnya dulu.

Akhirnya, mereka memahami filosofi wasiat ayah mereka sebelum meninggal dulu. Bahwa harta karun yang dimaksud di dalam sawah dan ladang adalah kerja keras mencangkuli. Dan kini, mereka merasakan semuanya.


Apakah Anda Suka?
Copyright 2014 Dongeng & Cerita Anak - All Rights Reserved