Home > Kue Dan Sepatu Roda

Kue Dan Sepatu Roda

Pengarang: Anonim

Kategori: Umum

Avi dan Dira adalah dua anak perempuan yang bersahabat. Avi tomboy. Ikut ekskul karate dan pandai bermain sepatu roda. Dira lebih tenang. Suka menari dan pandai membuat kue.

Sore itu, seperti biasa, Dira menemani Avi bermain sepatu roda di taman kota. Avi meluncur ke sana kemari di track yang sudah disediakan dengan asyiknya. Sedangkan Dira duduk di bangku di bawah pohon, sambil membaca buku. Setiap kali Avi melewati Dira, dia selalu sambil mencolek Dira. Satu kali dia lewat sambil mencubit kecil tangan Dira, kedua kali dia lewat sambil mencolek pipi Dira. Terakhir tadi Avi lewat sambil mencolek hidung Dira. Dira tertawa tergelak-gelak dibuatnya.


Melihat Avi sangat piawai bersepatu roda, Dira jadi meletakkan bukunya sejenak. Sepertinya memang asyik banget ya? Kalo seumpama aku nyoba, bisa ga ya? Pikir Dira.

"Avi!" panggil Dira.

Kebetulan Avi sedang berhenti di samping sebuah pohon perdu, tak jauh dari bangku dimana Dira duduk. Avi lalu menghampiri Dira, meluncur dengan sepatu rodanya.

"Kenapa?"

"Aku pengen cobain pake sepatu roda," jawab Dira sambil tersenyum lebar.

Avi nyengir, lalu segera melepas sepatu rodanya dan menyerahkannya pada Dira. Dira menerima sepatu roda berwarna hitam bertali pink itu, dan memakainya. Dira mencoba berdiri, tapi langsung jatuh terduduk. Mencoba bangkit lagi, tapi lagi-lagi dia jatuh. Setelah beberapa kali mencoba, Dira akhirnya bisa berdiri tanpa harus dipegangi oleh Avi. Sekarang Dira mencoba meluncur dengan sepatu rodanya. Tapi dia jatuh lagi. Beberapa kali dicoba, dia tetap jatuh. Akhirnya, Dira melepas sepatu roda itu dan mengembalikannya pada Avi.

"Sudah?" tanya Avi.

"Hihihi... Iya. Besok deh, coba lagi. Udah sakit nih jatuh melulu," jawab Dira.

Avi hanya tersenyum lalu merangkul pundak Dira. "Pulang saja, yuk. Udah sore juga nih."

"Yuk..." Avi dan Dira lalu pulang dengan bergandengan tangan.

Sesampainya di rumah, Avi segera menuju gudang. Di bawah tumpukan kotak-kotak sepatu, ada satu kotak sepatu yang dia cari. Diambilnya kotak itu, dibawanya keluar dari gudang. Dibukanya kotak sepatu itu setelah sebelumnya dibersihkan dulu dari debu. Ada sepasang sepatu roda berwarna kuning bertali putih di dalamnya. Avi tersenyum sendiri, lalu membayangkan hari-hari dimana dia dan Dira akan bersepatu roda bersama di taman kota.

Tanpa menunggu lagi, Avi segera bergegas pergi ke rumah Dira yang hanya berjarak lima rumah dari rumahnya. Diketuknya pintu, dan ternyata Dira yang membukakan.

"Eh, ayuk masuk," ajak Dira. "Kok balik lagi? Ada apa?"

"Aku menemukan sepatu roda Kak Vicky di gudang. Aku ingat, dia pernah pengen juga bisa bersepatu roda. Tapi dia terlalu takut jatuh. Jadi sepertinya, sepatu roda ini untukmu saja. Kita bisa latihan tiap hari di taman kota. Aku akan mengajarimu sampai bisa. Trus kita kan bisa bareng mainnya. Kamu ga cuma menemani dan menonton saja kan jadinya," jawab Avi panjang lebar sambil tersenyum senang.
"Waaaahhhhh.. asiiikk, terima kasih, Vi! Aku mau latihan sama kamu, biar kita jadi bisa olahraga bareng," ucap Dira sambil berbinar.

Dira menerima kotak sepatu roda itu dengan senang sekali. Dibukanya, lalu dielus-elusnya sepatu roda itu dengan hati-hati. Avi juga senang sekali, Dira mau menerima sepatu roda itu. Memang bukan yang baru, tapi sepatu roda itu masih bagus sekali, karena Vicky baru memakainya beberapa kali.

"Masuk dulu yuk, Vi. Aku tadi siang sebelum kita main ke taman itu sempet bikin muffin loh. Kamu kan belum mencicipinya."

"Uhh! Asiikkkk...! Nyam nyam nyam..." Avi segera mengikuti Dira ke ruang makan.

Ketika sedang asik mencicipi muffin buatan Dira, Avi ingat sesuatu.

"Ra, besok mama ultah. Kalo aku bikinin kue aja gimana ya, buat kadonya? Ajarin ya. Susah nggak sih, bikin muffin seperti ini?"

"Gampang! Ayo kita coba bikin sekarang!" sahut Dira.

Maka sesorean itu mereka habiskan berlatih membuat muffin.

***

Keesokan paginya, Avi bangun subuh-subuh, lalu membuat muffin seperti yang diajarkan oleh Dira. Tepung, susu, telur, cokelat, dan segala macam pernak pernik sudah dia beli di minimarket dekat rumahnya sepulangnya dia berlatih membuat kue di rumah Dira kemarin sore.

Dengan hati-hati, diraciknya semua bahan. Lalu tak lama setelah semuanya menjadi adonan seperti yang diajarkan oleh Dira, Avi menuangkannya ke dalam cetakan dan memasukkannya ke dalam oven. Semuanya ada enam cetakan kecil adonan yang siap menjadi muffin yang enak. Tak sampai setengah jam, muffin-muffin itu sudah diangkat dari oven.

Wahhhhh... baunya enak sekali. Avi berhasil menyelesaikan kue pertamanya. Dia senaaang sekali. Diambilnya nampan dan piring. Muffin-muffin itu ditatanya di atas piring, dihiasnya dengan buah cherry dan batang-batang coklat, seperti yang diajarkan oleh Dira.

Avi lalu membuat kopi. Mamanya suka sekali minum kopi di pagi hari. Kesemuanya dia taruh di atas nampan, piring berisi muffin dan secangkir kopi. Tak lupa dia tambahkan vas mungil dengan bunga segar di dalamnya.

Dipandanginya hasil kerjanya dengan puas, lalu segera dibawanya ke kamar mama.
Mama ternyata sudah bangun, tapi beliau masih membereskan tempat tidur.

"Surprise, Mamaaa!!" teriak Avi sambil masuk ke kamar.

Kaget sekali beliau melihat Avi tiba-tiba menerobos masuk sambil membawa nampan berisi kopi dan muffin dan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.

"Avi?? Kamu bikin sendiri ini semua?"

"Iya, Ma. Avi hebat ya? Hahaha..." jawab Avi.

"Waaahh... Belajar dari mana kamu, Sayang?"

"Diajarin Dira, Ma," jawab Avi lagi dengan bangga. "Avi sayang Mama. Selamat Ulang Tahun, Mama," dikecupnya kedua pipi Mama.

Mama tertawa, lalu dipeluknya Avi erat sekali.

Siangnya sepulang sekolah, Avi mengajak Dira berlatih bermain sepatu roda bersama. Senangnya, punya sahabat yang punya hobi yang berbeda dan mau saling mengajari...

Semoga cerita anak ini dapat bermanfaat. Baca juga cerita:

<< (By ) Kutukan Pohon Jambu Klutuk (By ) >>

Lihat juga kategori: Cerita Rakyat | Fabel / Binatang | Tumbuhan | Putri, Gadis & Dewi | Raja & Pangeran | Tema Umum

Suka halaman ini? Beritahu teman: