NANGKENDAREN Cerita dari Suku Pakpak Sumatera Utara

Nangkendaren (Kisah Putri Raja yang Tinggal di Bulan dan Asal-usul Kelelawar) 

Nangkendaren (Kisah Putri Raja yang Tinggal di Bulan dan Asal-usul Kelelawar)
Cerita Rakyat Suku Pakpak Sumatera Utara


RumahDongeng.com - Kali ini mengisahkan tentang Cerita Rakyat Suku Pakpak Sumatera Utara, Selamat Membaca. Pada zaman dahulu ada sebuah kerajaan  yang bernama simpantas, desa tersebut dipimpin oleh sorang raja yang baik dan juga bijaksana. Seluruh rakyat kerajaan sangat menyanyagi dan menghormati sang raja. Selain karena baik dan bijksana dalam memimpin, raja juga sangat pintar dalam bernanyi.


Sang Raja memiliki seorang putri yang di beri nama Nangkendare, putri raja tersebut berparas cantik dan sangat berbudi pekerti yang sangat baik.


Kecantikan dan kebaikannya nya tersebar sampai ke seluruh penjuru dunia. Putri raja tersebut memiliki rambut yang sangat panjang, satu helai rambut panjangnya bisa memenuhi satu cawan yang besar.


Sang Raja sangat mencintai dan menyanyangi putrinya, hampir setiap hari sang raja menemani putrinya bermain, saat pagi hari sang raja mengajak putrinya untuk berkeliling kampung menyapa penduduk yang sedang  beraktifitas.


Saat malam tiba sang raja akan mengajak putrinya ke bale-bale istana dan akan menyanyikan lagu-lagu kesukaan putrinya.


Suatu malam, rembulan bersinar dengan terangnya. Sang raja mengajak putrinya ke bale-bale isatana, sambil menikmati cahaya rembulan yang begitu terang sang raja menyanyikan lagu kesukaan putrinya, liriknya sebagai berikut:

cido-cido kaliki,
urat ni tabung gala merkade kalak i julu idi?

merubati dekket bapana, 
kade perubatanna?

kelang simacik-macik,
mengkade kelang idi lako menjongkit bulan,

mengkade bulan idi ? 
lako meam-meam si upik.

(lagu ini lagu pengantar tidur untuk anak-anak dalam bahasa daerah Pakpak. Artinya kurang lebih seorang ayah yang akan mengambil bulan dengan menggunakan bambu, dan bulan itu diberikan ke anaknya sebagai mainan).


Nyanyian yang begitu merdu dari sang raja membuat putrinya tertidur pulas begitu juga dengan sang raja angin yang bertiup sepoi-sepoi malam itu membuat raja juga tertidur pulas.


Tiba-tiba angin datang dengan kencangnya, putri raja terbawa oleh angin sampai ke bulan. Pada saat raja terbangun dari tidurnya, dia begitu terkejut melihat putrinya tidak ada di sampingnya lagi.


Sang raja menangis sepanjang malam dan sangat sedih. Sesampainya di bulan putri raja terbangun dan dia  terkejut saat menegtahui bahwa dirinya sudah berada di bulan.


Setelah beberapa lama di bulan dengan kehendak sang pencipta, putri raja melahirkan seorang anak laki-laki.


Suatu hari di bulan putri raja duduk memangku anaknya sambil meyisir rambutnya. Tiba-tiba anaknya jatuh dari pangkuannya dan menuju bumi, namun belum sampai di bumi anaknya tadi berubah menjadi kelelawar.


Dia ingin terbang kembali ke bulan untuk menemui ibunya namun belum sampai di bulan hari sudah terang dan kelelawar tidak dapat melihat.


Semenjak itu kelelawar akan keluar pada malam hari, kelelawar tidak bisa melihat mulai pagi sampai sore.


Begitu juga dengan putri raja nangkendaren, saat bulan purnama kita akan melihat seperti ada seorang wanita yang sedang memangku anaknya dan itu di percaya masyarakat pakpak sebagai nangkendaren putri raja yang sedang menjaga anaknya. 



BIODATA PENULIS RUMAH DONGENG

Penulis cerita: Ahmad Zainuddin Ujung

Ahmad Zainuddin Ujung lahir di Desa Pasi, Kecamatan Berampu, Kabupaten Dairi, 21 Maret 1989. Keseharian penulis berprofesi sebagai Guru SD di SDN 026562 Ponjian, Dairi, Sumatera Utara


Penulis sudah menetaskan satu buah buku puisi tunggal yang berjudul Sang Peneroka di Negeri Andalas(2020),  Buku Gema Lobat Tanoh Sulang Silima tahun 2021 ( Buku sastra daerah Pakpak Dairi  sebagai buku refrensi dalam mata pelajaran muatan lokal di sekolah ),


Penulis buku muatan lokal Bahasa Pakpak Terajar kata Pakpak untuk kelas IV,V, dan VI(2021) dengan berintegrasi dengan kurikulum K-13, dan menjadi buku mata pelajaran di lingkungan Dinas Pendidikan Kabupaten Dairi. Ada juga beberapa buku antologi cerpen dan puisi yang sudah sah menjadi warga di lemari kacanya yang bermotif bunga-bunga.

Posting Komentar untuk "NANGKENDAREN Cerita dari Suku Pakpak Sumatera Utara"